KEHIDUPAN MASYARAKAT MADINAH SEBELUM HIJRAH

Rabu, 02 Desember 2009


Berbicara tentang kehidupan masyarakat Madinah (Yatsrib) sebelum rasul hijrah dari sisi agama, sosial, ekonomi, dan peradabannya merupakan hal yang tak patut diremehkan. Kondisi ini berbeda dengan kondisi kota Makkah. Mengetahui hal ini menjadi penting bagi umat Islam yang ingin meneruskan perjuangan rasulullah saw, karena kota Madinah adalah tempat hijrah beliau saw yang telah ditentukan oleh Allah swt, kota Madinah juga sebagai dasar loncatan dakwah beliau saw ke penjuru dunia, dan kota Madinah merupakan awal berdirinya masyarakat Islami.


a. Keberadaan agama yahudi
Di Madinah terdapat tiga kabilah besar dari agama yahudi, jumlah pemudanya mencapai 2000 orang lebih. Tiga kabilah yahudi itu adalah : Qainuqa’, Nadlir, dan Quraizhah. Dan ketiganya saling bermusuhan. Qainuqa’ tinggal di dalam kota Madinah setelah diusir oleh bani Nadlir dan bani Quraizhah yang tinggal di luar kota Madinah. Mereka memiliki tempat khusus untuk belajar agama yahudi, untuk beribadah, dan membicarakan urusan agama serta dunia. Mereka namakan tempat itu dengan “madaris”. Mereka juga memiliki syari’at dan aturan khusus, sebagiannya bersumber dari kitab suci mereka dan sebagian lain dibuat oleh tokoh agama mereka. Orang yahudi di Madinah terkenal dengan sihir, meracik racun dalam makanan, dan memilih kata- kata yang memiliki banyak makna. Keahlian mereka dalam sihir menjadi kebanggaan, bisa kita rujuk dalam Q.S Al Baqarah : 102. Mengenai kemampuan mereka dalam menggunakan kata- kata bisa kita lihat Q.S Al Baqarah : 104.
Dan mereka juga mengalami kemerosotan moral, suatu hal yang tidak layak terjadi bagi suatu masyarakat bermartabat dan berpegang teguh dengan ajaran samawi. Hal ini terbukti dengan peristiwa seorang wanita Arab yang terangkat bajunya ketika bangun dari tempat duduk, setelah wanita itu menolak untuk memperlihatkan wajah dan akhirnya ujung bagian bawah bajunya diikat pada bagian pundak oleh salah seorang dari mereka. Maka terlihatlah auratnya ketika bangun dari tempat duduk. Selain itu, dari sisi ekonomi mereka berinteraksi kepada selain orang yahudi dengan riba. Mereka menguasai perekonomian penduduk Madinah, sehingga dengan bebas menentukan harga sangat tinggi dalam penjualan barang.
Pola interaksi orang- orang yahudi kepada kabilah Aus dan Khazraj tidak terlepas dari kemaslahatan kelompok (yahudi) dan capaian- capaian materi. Mereka mengadu domba kabilah Aus dan Khazraj untuk menguasai perekonomian Madinah.
Bahasa mereka adalah bahasa Arab, tapi juga menggunakan bahasa Ibriyah yang digunakan dalam peribadatan dan pelajaran.
Dari sisi agama, bani Israil secara umum tidak memiliki semangat untuk mengajak umat lain agar memeluk ajarannya dan menyebarkan ajaran yahudi dari beberapa sisi adalah terlarang bagi mereka.
Suatu hal yang tak dapat dipungkiri, beberapa orang dari kabilah Aus, Khazraj, dan kabilah- kabilah Arab lain memeluk ajaran yahudi dengan keinginan mereka, dengan jalan pernikahan, atau disebabkan hidup dalam lingkungan orang- orang yahudi.
b. Kabilah Aus dan Khazraj
Silsilah keturunan dua kabilah ini kembali kepada kabilah- kabilah Uzdiyah di Yaman. Hijrah dari Yaman ke Yatsrib (Madinah) berlangsung dalam waktu yang berbeda tidak satu waktu dan disebabkan beberapa faktor, diantaranya ketidakstabilan kondisi Yaman saat itu, terjadi peperangan dengan orang- orang Habasyi, dan terbengkalainya urusan pengairan dengan hancurnya bendungan Ma’rab. Oleh karena itu, kabilah Aus dan Khazraj termasuk penduduk baru di Madinah setelah orang- orang yahudi.
Kabilah Aus tinggal di bagian selatan dan timur kota Madinah yang merupakan dataran tinggi, sedangkan kabilah Khazraj berada di bagian pusat dan utara kota Madinah yang merupakan dataran rendah.
Nasab kabilah Khazraj kembali kepada Malik, ‘Adiy, Mazin, dan Dinar. Seluruhnya dari bani An Najjar. Mereka tinggal di sekitar masjid nabi saw.
Kabilah Aus berada di daerah persawahan, berdampingan dengan kabilah – kabilah yahudi. Adapun kabilah Khazraj berada di daerah yang kurang subur, mereka berbaur dengan kabilah Qainuqa’.
Bangsa Arab ketika hijrah memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan masayarakat Madinah, hal ini tidak dapat dilakukan oleh orang- orang yahudi dikarenakan perselisihan antar mereka. Sebagian mereka bekerjasama dengan Aus, sebagian yang lain dengan Khazraj. Persekongkolan ini menyebabkan Aus dan Khazraj juga berselisih, sehingga terjadi peperangan besar antara keduanya yang berakhir dengan kerugian satu sama lain. Perang pertama antara Aus dan Khazraj dikenal dengan perang Samir. Yang terakhir adalah perang Bu’ats, terjadi 5 tahun sebelum hijrah.
c. Kondisi sosial agama
Bangsa Arab yang berada di Madinah mengikuti kabilah Quraisy dan penduduk kota Makkah dalam berkeyakinan juga beribadah. Mereka menyembah berhala- berhala yang disembah oleh kabilah Quraisy dan penduduk Hijaz.
Berhala Manat bagi penduduk Madinah merupakan berhala tertua dan mendapatkan penghormatan yang tinggi dari kabilah Aus dan Khazraj. Sedangkan berhala Lata diagungkan oleh penduduk Thaif, dan Uzza sangat dihormati oleh penduduk Makkah. Namun di Madinah berhala- berhala itu tidak tersebar luas seperti di Makkah.
Penduduk Madinah sebelum datang Islam memiliki dua hari (An Nairuz dan Al Mahrajan, dari bahasa Persi) untuk bermain- main dan bersenang- senang. Ketika Islam datang, nabi Muhammad saw bersabda : “ Allah telah gantikan dua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu hari Fitri dan Adlha “. (HR. Abu Daud dan An Nasa’i), hadits shahih.
d. Kondisi ekonomi dan peradaban
Kota Madinah (Yatsrib) merupakan daerah persawahan dan perkebunan yang menjadi sandaran hidup penduduk setempat. Penghasilan terbesarnya adalah kurma dan anggur. Kurma merupakan hasil alam yang memberikan manfaat banyak bagi kehidupan mereka, diantaranya sebagai makanan, alat bangunan, pabrik, makanan hewan, bahkan seperti mata uang yang digunakan untuk tukar menukar ketika terdesak. Kurma Madinah juga banyak macamnya.
Hal ini tidak menafikan laju bisnis di kota Madinah, meski tidak semarak di kota Makkah yang tidak memiliki persawahan karena air yang sangat terbatas.
Di kota Madinah terdapat beberapa pabrik yang sebagian besar dikelola oleh orang- orang yahudi. Bani Qainuqa’ adalah kabilah yahudi terkaya di Madinah, meski jumlah mereka tidak banyak.
Allah telah jadikan tanah kota Madinah sangat subur, sehingga banyak sumur- sumur air yang dapat mengairi persawahan dan perkebunan dengan lancar tanpa hambatan. Meski demikian, kebutuhan makanan mereka tidak mencukupi, sehingga mengimpor dari Syam seperti tepung, minyak, dan madu.
Selain hasil alam, penduduk Madinah memiliki hewan ternak seperti unta, sapi, kambing, dan kuda.
Di Madinah terdapat banyak pasar, yang terkenal pasar bani Qainuqa’, disana juga terdapat toko minyak wangi. Dan macam- macam jual beli lainnya, yang sesuai dengan ajaran Islam maupun tidak. Mata uang yang digunakan di Makkah dan Madinah adalah dirham dan dinar.
Kehidupan Madinah mengalami perubahan dari waktu ke waktu, diantaranya rumah bertingkat, terdapat halaman rumah, tedapat kursi, dan lain- lain yang mencerminkan peradaban masyarakat Madinah saat itu.
e. Kondisi sulit yang akan dihadapi rasul saw
Dari pemaparan diatas, bisa kita ambil beberapa kesimpulan diantaranya hijrah rasul bukan berarti hijrah dari kota ke desa. Karena kehidupan di Madinah lebih majemuk dan sudah ada masalah, sehingga membutuhkan kemampuan untuk memecahkan masalah, memberikan solusi dan bukan mencari atau menambah masalah yang dapat memperkeruh suasana bermasyarakat dan bernegara. Kondisi seperti ini membutuhkan sosok da’i yang menyatukan seluruh komponen masyarakat. Sifat- sifat ini terdapat pada diri rasulullah saw, teladan bagi orang yang ingin melanjutkan perjuangan beliau. Allahummaj’alna minhum.
(Disarikan dari buku “As Sirah An Nabawiyah” karya Abul Hasan ‘Ali Al Hasani An Nadwiy)

0 komentar:

Poskan Komentar

About This Blog

Blog Archive

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP